sekdes.com
Home > Berita > Rasisme Trump Picu Warga AS Berbondong-bondong Belajar Islam, Jutaan Eksemplar Buku Jalaludin Rumi Diborong Habis

Rasisme Trump Picu Warga AS Berbondong-bondong Belajar Islam, Jutaan Eksemplar Buku Jalaludin Rumi Diborong Habis

Ilustrasi Gambar:perpuskecil.wordpress.com.

Kontributor: T.W. Santoso

Washington–Donald Trump merupakan presiden AS terpilih saat ini. Sesaat setelah terpilih sebagai Presiden AS, Trump benar-benar merealisasikan janji-janjinya semasa kampanye. Semuanya diwujudkan dalam berbagai kebijakan yang kontroversial. Ada yang mendukung, tetapi banyak juga yang menolak. Salah satu kebijakan Trump yang paling kontroversial adalah pelarangan warga dari tujuh negara untuk memasuki wilayah AS. Tujuh negara tersebut adalah Suriah, Somalia, Iran, Irak, Sudan, Yaman, dan Libya yang mana ternyata semua negara itu mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.

Trump beralasan, kebijakannya yang melarang Muslim masuk ke wilayah AS demi melindungi negaranya dari ancaman terorisme. Dengan kata lain, setiap Muslim, terutama dari tujuh negara seperti disebutkan di atas, dianggap Trump sebagai potensi untuk melakukan tindakan terorisme. Bahkan Trump mencuitkan pada akun twitter miliknya dengan mengatakan : “Keamanan Nasional dalam ancaman teroris Islam”.

Memang, Kebijakan Trump dikemudian hari pada akhirnya dibatalkan oleh Hakim Federal di Seatle dan diperkuat oleh Pengadilan Banding AS (US Court of Appeals for The 9th Circuit) di Kota San Fransisko, Negara Bagian California. Pembatalan kebijakan Trump perlu dilakukan karena dengan melarang warga Muslim masuk ke wilayah AS merupakan tindakan yang inkonstitusional dan bentuk diskriminasi terhadap manusia berdasarkan agama yang dianut.

Yang menjadi menarik tatkala segala pernyataan dan kebijakan Trump yang mengisyaratkan kebenciannya terhadap Islam dan Muslim, ternyata justru membuat banyak warga AS sendiri semakin penasaran dengan Islam dan Muslim.

Berkaca pada peristiwa serangan Menara Kembara WTC (World Trade Center) di New York pada 11 September 2011, berbagai pertanyaan terkait dengan Islam dan pemeluknya mulai muncul di kalangan warga AS.  Banyak warga AS mulai bertanya-tanya apakah Islam dan pemeluknya sungguh seperti apa yang dikhawatirkan Trump? Apakah Islam, dengan jumlah pemeluknya yang mencapai lebih dari 1,6 miliar di seluruh dunia benar-benar mengajarkan kekerasan? Apakah kelompok-kelompok ekstremis radikal seperti Al-Qaeda dan ISIS merupakan representasi Islam dan umat Islam? Serta, apakah Islam tidak mengajarkan kelembutan budi, akhlak mulia, cinta, dan kasih sayang terhadap sesama?




Untuk mencari jawabannya, berbagai literatur tentang Islam telah banyak dikaji oleh mereka yang penasaran dengan Islam. Karya-karya besar dari para ulama terkenal mulai mereka terjemahkan. Di antara karya-karya yang paling disukai dan diburu mereka adalah karya milik Jalaluddin Rumi, seorang ulama, filsuf, sekaligus penyair yang lahir pada 1207 M.

Seperti yang telah diberitakan oleh beberapa media internasional, penjualan buku-buku yang berisi karya Jalaluddin Rumi mengalami peningkatan terutama di benua Eropa dan Amerika. Bahkan The Washington Post, surat kabar terbesar dan tertua di Washington, salah satu edisinya pernah menyebutkan bahwa pembelian buku-buku karya Rumi oleh warga AS telah mengalami peningkatan yang drastis, puncaknya ketika Trump hadir di tengah masyarakat AS. Sementara itu, surat kabar Los Angeles Times menyebutkan puisi-puisi spiritual milik Rumi begitu digemari dan selalu dibawakan dalam kutipan-kutipan di acara pesta pernikahan, perayaan besar lainnya, hingga pada upacara-upacara pemakaman.

Jane Ciabattari dalam salah satu artikelnya di BBC Culture juga menyebutkan karya-karya Rumi terjual jutaan eksemplar dalam beberapa tahun terakhir. Fakta ini menjadikan Rumi sebagai penyair yang paling populer di Amerika. “Secara global, para penggemarnya sangat banyak”, tulis Ciabattari.

Mengutip dari pernyataan sejumlah media seperti di atas, tampaknya kebencian Trump terhadap Islam dan pemeluknya tidak membuat warga AS menjadi antipati dengan Islam. Justru malah sebaliknya, orang-orang Amerika menemukan arti Islam yang sesungguhnya melalui karya-karya Rumi yang mana mengajarkan cinta, kasih sayang, budi pekerti yang baik serta menghargai sesama, bukan seperti apa yang selalu digambarkan Trump jika Islam sebagai penyebar paham kekerasan dan terorisme.

Sekdes Media
Media Berita dan Opini | Media Informasi dan Berita | Mendekatkan pembaca dengan kabar aktual seputar seni, olah raga, kuliner, sospol.
Top
%d blogger menyukai ini: