sekdes.com
Home > Opini > Menjernihkan Arti Islam, Iman Dan Kafir Dari Debu Politik Dan Api Benci

Menjernihkan Arti Islam, Iman Dan Kafir Dari Debu Politik Dan Api Benci

Ada yang tersisa dari persaingan seru Pilpres dan Pilkada DKI yang lalu. Ada yang masih tertinggal. Ada debu politik dan api kebencian yang terus ada dan membayangi hingga kini. Debu politik itu adalah pembelahan pribumi dan non pribumi. Cuatan usulannya sampai mengembalikan UUD 1945 hasil amandemen  tentang warganegara Indonesia asli guna memilih Presiden dan Wakil Presiden. Tujuannya adalah memastikan Indonesia dipimpin oleh pemimpin asli yang cinta bangsa.

Kedua adalah soal api kebencian akibat pembagian warganegara dengan sebutan islam dan kafir, iman dan munafik dan yang setara dengan itu. Penyebutan ini sangat berbahaya. Sebab akan merendahkan pemeluk sesama agama dan pemeluk lain agama secara tak setara dalam pergaulannya. Padahal itu adalah urusan privat di dalam agama maupun antar sesama agama.Buahnya akan membawakan rasa permusuhan dan tidak pecaya yang dapat berakhir konflik terbuka.Pada ihwal kedualah tulisan ini akan membahasnya.

Mengenai arti islam sebenarnya telah terang dan terbuka. Dapat dibaca dan diperoleh di sumber agama islam yang resmi dan tak resmi sekalipun. Berasal dari kata aslama yuslimu islaman. Yang artinya tunduk, menyerah, dan damai. Ini merujuk pada segala fenomena, baik alam maupun manusia. Pada kenyataan alam sangat banyak digambarkan betapa gerak, diam dan karir kehidupan semua benda dan makhluk di alam ini tunduk pada ketentuan Tuhan.

”Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran”. “Tuhan menciptakan langit dan mewahyukan urusannya”. “Tidak ada yang berubah pada ketentuanNya”.”Pada pergerakan langit dan bumi ada tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir“.”Kami tutup siang dengan malam dan keduanya tidak pernah saling mendahului”. Sehingga segala hal di kolong jagad ini semuanya telah islam alias tunduk menyerah pada hukumNya. Hingga Dia memanggil “datanglah kamu berdua langit dan bumi kepadaKu dengan sukarela maupun terpaksa”.
Pada keislaman seseorang, islam digunakan sebagai tahapan awal seseorang sebelum beriman. Sehingga tingkat islam ada dibawah iman. Seperti pada firman ini “Jangan kau mengatakan bahwa aku beriman,  namun katakanlah bahwa aku tunduk”. Ayat ini menerangkan adanya ketundukan tanpa adanya kesadaran yang sepenuh-penuhnya kepada apa yang diimaninya. Dikarenakan barangkali kurangnya ilmu, pengetahuan maupun ujian yang membedakan antara yang sungguh-sungguh maupun yang bukan.

Arti kedua memberikan makna bahwa islam adalah level berikutnya setelah iman. Menunjuk pada keutamaan tingkat ini lebih dari level sebelumnya. Tertera pada hadis Nabi saat beliau didatangi malaikat berbentuk seorang pemuda dan bertanya tentang apa itu iman, islam dan ihsan. Maka dijawabbeliau “iman adalah percaya kepada Allah, Malaikat2Nya, Kitab2Nya, Nabi2Nya, Hari Akhir dan Qadla dan Qadar, sedang islam adalah bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menjalankan puasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji jika mampu,…”

Arti islam yang kedua ini menggambarkan pada lebihnya islam dari iman sebab islam sudah lebih jauh dari tindak mempercayai saja dalam fikir, hati dan diucapkan lisan. Namun sudah pada taraf menjalankan bukti iman itu dengan perbuatan kesaksian, menyembah, berbagi, empati dan jihad fisik dan ruhaniah.

Kedua arti ini tidaklah bermasalah dan sebagian besar dapat dimengerti oleh kedua golongan, baik yang keras maupun yang moderat. Sebab tidak memberikan penekanan pada nilai islam kepada pergaulan dan hubungannya dengan agama atau kitab sebelumnya. Tidak menerangkan apakah islam terlepas atau mempunyai hubungan senantiasa dengan wahyu-wahyu sebelumnya.

Disini Ibn Taymiah mengajukan penjelasan yang mengagumkan. Tidak tanggung-tanggung memang. Menurutnya makna islam sebagai agama mencakup makna umum dan makna khususnya. Adapun makna umum islam mencakup semua nabi, rasul, wahyu dan kitab yang turun sebelum al Qur an dan Muhammad. Karena pada hakikatnya semua mengajarkan untuk “beriman kepada Tuhan dan kepada hari Akhir dan mengajak untuk berbuat kebajikan”. Walaupun demikian jalan atau syariat yang ditempuh wahyu sebelumnya khusus masing-masing bagi tiap-tiap umat. “Sesungguhnya tiap-tiap kaum ada jalan dan aturan…”

Sebagai akibatnya, ada sambungan dan sekaligus keterputusan antara islam dan agama-agama sebelumnnya. Karena “kitab ini (al qur an) membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan memeliharanya”. Al qur an membenarkan apa yang memang benar dari kitab sebelumnya dan pada saat yang sama memeliharanya dari kesalahan paham umatnya maupun penyalahgunaannya bahkan pemalsuannya.

Karena itulah mereka penganut agama dan pengikut rasul/nabi sebelumnya disebut ahli kitab. Yaitu mereka yang menerima kitab yang turun sebelum al Qur an dan mengimaninya. Ulama beragam pendapatnya mengenai siapakah yang termasuk ahli kitab. Imam Hanafi memasukkan Majusi, dan Sabi in sebagai ahli kitab selain Nasrani dan Yahudi. Sedang Imam Syafi I hanya memasukkan Nasrani dan Yahudi ke dalamnya. Muhammad Rasyid Ridha lebih jauh memasukkan juga Hindu, Buddha, Tao, dan Konghucu ke dalam ahli kitab selain 4 agama yang tersebut pertama di atas.
“Di antara mereka ada yang sungguh-sungguh beriman dengan apa yang diturunkan pada sisi mereka dan mereka bersujud di malam hari”. Sebagiannya adalah memang ingkar karena mengetahui kebenaran namun mengingkarinya.”Mereka menghalangi manusia dari jalan Tuhan dan memakan harta anak yatim dari jalan yang batil.Meskipun di antara mereka juga ada yang baik “jika mereka meminjam sesuatu maka merekapun akan segera mengembalikannya”. Ada juga yang buruk “ ada yang tidak mengembalikan sampai kau menagihnya berkali-kali”.

Dan keadaan yang bermacam-macam juga menimpa pada manusia yang beriman. Kaum muslimin juga terbagi-bagi dalam ketaatan kepadaNya. Ada yang bersegera pada kebajikan (sabiqunal khair), ada yang pertengahan yang bercampur haq dan yang batil (muktasid) dan yang menganiaya diri sendiri (dzalimun binafsih) karena keingkaran dan kemalasannya. Itulah mengapa Rasul sampai mengatakan naik turunnya iman. “Orang yang beriman itu tak beriman kala berzina, kala mencuri, dan kala berbohong”.
Bahkan Allah tak segan-segan meninggalkan umat islam ini jika “kamu kelur dari agama ini (murtad) maka akan Kami ganti kamu dengan kaum yang lain yang mereka mencintai Allah dan Allahpun mencintai mereka, saling mengasihi kepada yang beriman dan berlaku tegas pada yang ingkar”.

Jadi kekafiran itu mencakup adanya ilmu tentang kebenaran, mempercayainya namun mengingkarinya. Demikianlah pendapat al Ghazali, Syah waliyullah, Ibn taymiah, Ibn arabi, dan Jakfar Shadiq. Dan apabila mereka kaum ahli kitab tidak tahu akan islam, atau tahu sedang tahunya belum meyakinkannya sedang mereka tulus dan berbuat kebajikan, maka merekapun akan diampuni Tuhan dan masuk surga sebagai rahmat Allah yang Maha luasnya. Demikian pendapat al Ghazali, Ibn Arabi, Syah al Diwani, Mustapha al Maraghi dan Muhammad Rasid Ridha.
Saiful Islam, penulis di media online

(Ilustrasi:cnn.com)

Sekdes Media
Media Berita dan Opini | Media Informasi dan Berita | Mendekatkan pembaca dengan kabar aktual seputar seni, olah raga, kuliner, sospol.
Top
%d blogger menyukai ini: