sekdes.com
Home > Nasional > Mengukur Prosentase Peluang Polisi Masuk Surga

Mengukur Prosentase Peluang Polisi Masuk Surga

Gambar:youtube.com

Khoirul Huda

Ngigau nih penulis!!!..Hmmm kayaknya sih. Kalimat itulah yang pasti muncul pertama kali ketika membaca judul di atas. Karena itu, saya terima resiko apabila dianggap sedang ngelantur atau ayanen, atau apalah-apalah. Tapi sahabatku sekalian, percayalah, saya menuliskan masalah ini karena sebab yang sungguh religius, pada momen sakral, dan pada situasi dimana akselerasi iman sedang dalam keadaan bening-kumpling-kumpling.

Kira-kira begini ceritanya, pada senin sekitar seperempat abad lalu, beratus kilometer jauhnya dari tempat saya dilahirkan, saya yang pada waktu itu sedang menjadi manusia pembelajar, mampir sholat jama’ah maghrib di sebuah mushola kecil pinggir jalan raya poros kecamatan. Maaf, jangan kepo ya nanya-nanya kecamatan mana, musholla apa, dll. Demi kepentingan semesta raya, saya harus merahasiakan tempat tersebut.

Iqomah belum dikumandangkan. Otomatis setelah wudhu saya punya kesempatan sejenak mengenal situasi dalam musholla tersebut. Tak hanya mengenai bangunannya, tapi juga orang-orang yang sedang menunggu jamaah maghrib disitu. Mushollanya kecil, kira-kira hanya cukup 50-60 jamaah. Catnya berwarna putih. Ada satu kipas angin kecil menggantung di mikhrob. Di ujung paling belakang sisi sebelah kanan ada rak kecil sebagai tempat al-qur’an. Dan disebelahnya ada kaleng (umplung) menggantung tempat menampung infaq.

Jamaah yang hadir tak cukup banyak. Sekitar 20-30 orang. Dari pakaiannya, nampaknya mereka adalah warga sekitar. Namun, ada juga orang luar yang kebetulan tengah dalam perjalanan seperti saya, kemudian mampir ikut sholat jamaah. Selain saya, ada lagi bapak-bapak berseragam polisi, 3 orang tepatnya. Ya,, betul polisi. Tak hanya bisa ditengarai dari bajunya yang mirip peserta jambore pramuka, tapi juga sepatunya yang khas, dan sabuk (ikat pinggangnya) yang hemmm…ngidap-ngidapi uniknya. Dari gelagatnya, mereka juga bukan bagian dari warga sekitar. Saya tamatkan melihat-lihat seisi musholla. Beberapa saat kemudian iqomah pun di kumandangkan.

Seorang yang sudah lanjut usia maju ke mikhrob. Berjalan khidmat dengan setengah membungkuk karena usia. Menggunakan peci hitam, memakai baju batik lengan panjang, warna semu biru, motif ekor burung. Nampak, bagian kancing baju paling bawah belum di pasang sehingga terlihat kedodoran. Sarungnya berwarna hijau kering.  Takbiratul ikhrom pun diperdengarkan, tanda sholat masuk rokaat pertama. Bacaan alfatihah dengan suara biasa-biasa saja namun tenang dan kuat di lantunkan. Disusul bacaan surah At-Tin (wattiini wazzaituun. Sampai sujud yang kedua di rokaat pertama, semua Nampak biasa saja.

Setelah sujud, kemudian berdiri memasuki roka’at kedua. Kembali, Surah al-fatikha di lantunkan. Saya mulai terkejut ketika imam kembali menyambungnya dengan surah At-Tin. Saya mulai tidak konsentrasi. Pikiran saya terusik keras. Mestinya, untuk lebih bagusnya imam membaca surah yang berbeda dimana posisi urutan surah tersebut lebih tinggi dari At-Tin. Paling tidak itu yang saya ketahui dari guru saya di pesantren dulu. Saya setengah protes. Setengah mencela. Dalam pikiran saya muncul sak wasangka bahwa sang imam memang bisanya cuma At-Tin ini. Tapi gimana lagi. Meskipun hati sudah gak tenang, tapi sholat harus selesai, harus lanjut. Itu lebih baik dari pada mrotol di tengah rekaat. Bukankah itu bukan hal-hal yang membatalkan sholat. Jadi ya sudahlah. Cuma, dihati saya ingin menanyakan maksud dari dua bacaan surah yang sama itu pada imam. Tentu saja setelah sholat usai.

Apa yang saya tunggu-tunggu sudah datang. Dua salam, kekanan dan kekiri, menandai sholat sudah berakhir. Saya langsung bergeser ke belakang. Bersandar di tembok persis di samping pintu dimana  imam tadi masuk. Tak lama, beberapa selesai membaca wiridnya kemudian keluar. Begitu juga pak polisi. Saya sengaja tetap di samping pintu. Menunggu Imam.

Saat suasana benar-benar sudah sepi, hanya tinggal imam tersebut, saya menghampirinya.  Basa-basi, kemudian menanyakan pertanyaan yang saya tahan sejak rokaat kedua tadi. Apa jawaban imam tersebut. Dengan nada lemah dan biasa ia menjawab “saya sengaja baca surat At-Tin di dua rokaat itu untuk mengingatkan bapak polisi tersebut”. Saya terbengong. Saya pernah nyantri. Tentu saya tau yang dimaksudkan sang imam. Dalam surat At-Tin, ayat terakhir di firmankan bahwa “Allah adalah hakim yang seadil-adilnya”. Tapi jawaban imam ini sungguh di luar apa yang saya pikirkan. Tentu apa yang dimaksudkan oleh imam ini menohok tugas pak polisi sebagai aparat penegak hukum. Sebagai penegak hukum formal negara, polisi harusnya bisa bersikap dan bertindak adil. Mungkin itu yang diharapkan sang imam kepada pak polisi.

Keseharian  Yang Tak Bisa Dipungkiri

Saya, anda, sang imam, dan mungkin kita semuanya tak bisa memungkiri bahwa ada sekian banyak hal yang membuat hati terluka, perasaan kecewa, dan kepercayaan hilang pada polisi. Tak hanya urusan di jalan raya yang tentu saja bukan malah membuat nyaman kita sebagai pengguna jalan, tapi malah bikin was-was ketika ada pak polisi ngawe-ngawe di jarak seratus meter kedepan sana. Jika di jalan raya kita lagi ada insiden bersenggolan dengan pengendara lain, yang kita khawatirkan bukannya kondisi kita atau kondisi orang yang sedang bertabrakan dengan kita, tapi polisi.

Setelah tabrakan, kita clingak-clinguk ada polisi gak, kalau tak ada biasanya warga langsung membawanya menepi atau ke dalam gang supaya tak terlihat polisi. Kalau terlihat polisi, seperti yang dipahami masyarakat umum, kita akan semakin ngenes. Sudah tabrakan, di tangani polisi, waduh… bisa habis isi dapur. Itulah yang dipahami warga saat ini terhadap polisi saat tabrakan. Apa benar seperti itu kelakuan polisi??… ya em..em..em..embuhlah.  Jadi bukan rasa aman yang kita dapat tapi rasa dek-dek serrr.

Itu urusan di jalan. Urusan lainnya. Punya gawe orkesan ya harus ngomong ke polisi. Kalau tidak, ya nanti kalau ada apa-apa warga yang disalahin. Dan itu artinya harus ada ehm…titituitnya. Kalau gak ada ya hanya datang dilihat dari jauh sambil ngerokok dan ngopi. Tapi kalau ada titituitnya ya beda lagi gitu. Ada turnamen volley, sepak bola, apapun lah juga harus begitu unggah-ungguhnya terhadap polisi. Kalau tidak, itu gak sopan leh.

Kalau anda lapor kemalingan, ya itu beda lagi nanti. Pengin tau..apa pengin tau banget. Coba saja sendiri.

Nalar dan mentalitas kerja sebagai polisi yang demikian itu tentu mengusik pikiran kita, apa mereka tak berpikir anak-istri dan keluarga mereka, juga dirinya sendiri bahwa setiap hari mereka bekerja dengan cara yang buruk bahkan menerapkan praktik yang dilarang agama. Bukankah mereka juga beragama, bertuhan, dan karena itu mereka pasti mengenal konsep kematian, hari pembalasan, surga dan neraka. Kenapa pemahaman-pemahaman itu tak pernah jadi pertimbangan dalam bekerja dan bertindak. Padahal kata tuhan, barang siapa(penegak hukum) adil, maka pahalanya adalah surga, dan barang siapa (penegak hukum) tak adil pastilah ia akan masuk neraka. Polisi??? Berapa persen kemungkinannya? Surga atau neraka?…

 

Catatan tak penting:

“Tentu tidak semua polisi demikian. Karena itu tulisan ini hanya ditujukan untuk polisi yang jahat saja dan berpraktik sewenang-wenang. Kalau kebetulan itu dirimu, yo coba cetot pipimu, sapa tau kamu sedang ngelindur”.

 “Saya bukan pemilik formulir surga, saya hanya membaca lewat ayat-ayat nya. Dan kamu tak usah mendebat, terimalah, kemudian berubahlah kejalan yang di berkahi tuhan, ALLAH AZZA WAJALLA”

Sekdes Media
Media Berita dan Opini | Media Informasi dan Berita | Mendekatkan pembaca dengan kabar aktual seputar seni, olah raga, kuliner, sospol.
Top
%d blogger menyukai ini: