sekdes.com
Home > Opini > Mengapa Sinetron Kita Kalah Dari India Dan Turki

Mengapa Sinetron Kita Kalah Dari India Dan Turki

Bagi penggemar film-film Barat dari Hollywood yang di putar di stasiun TV swasta, barangkali akan merasa kecewa. Pasalnya karena kini mereka mendapatkan saingan lumayan beratnya. Era sinetron-sinetron yang mendominasi dan mengambil alih. Bukan sinetron dalam negeri yang merambahi  jam-jam siar utama. Tetapi sinetron dari negeri seberang. Sama asianya  dari India dan Turki. Karena biasanya candu nikmat film-film Hollywood akan kalah oleh pilihan ibunya atau isterinya, sinetron India dan Turki.

Sebagian malah akan menemukan kenikmatan lain berasa dan berwarna. Pilihan tidak lagi terbatas pada kiblat barat dengan film-film mainstreamnya. Pada pilihan cita rasa sinema elektronik bumbu asia yang dekat dengan lidah dan dapur keseharian hidup kita. Tentang kehidupan, cinta, keluarga dan profesi yang tak jauh dengan kehidupan Indonesia.

Sudah hampir 4 tahun tren pemutaran sinetron India dan Turki di Indonesia secara masif sebenarnya. Namun sejak itu perambahan tayang yang biasanya hanya bermain pada pukul 18.00-21.00 menjadi lebih panjang. Baik di belakang maupun di depan. Di malam hari penayangan sinetron hingga jam 24.00 dan bahkan pernah lebih. Tidak cukup disetel pula pada jam-jam siang 13.00 sampai 15.00. Belum cukup lalu dicoba disiar pada pukul 09.00-12.00 dan senantiasa berhasil dan mendapatkan banyak pemirsa dan antusiasme.

Begitu antusiasnya dan heboh perhatian pada sinetron, sampai penonton dibuat bingung karenanya. Apa sebabnya? Pasalnya jam tayang judul-judul tertentu sering berpindah-pindah. Kadang dimajukan, kadang dimundurkan. Bahkan judul yang lama belum habis, masih dimasukkan satu lagi sebagai tawaran. Apalagi kalau bukan hendak mencari laba iklan lebih setelah mendapatkan iklan yang juga tak kalah sedikitnya pula.Dan karena itu pula, 3 kali berturut-turut, sebagai hasil menangguk banyak untung belanja iklan, TV swasta penayang selalu membuat perayaan ultah megah, apik dan tentu saja mahal.

Dan kini sampai ada pembagian kerja penayangan mana sinetron India dan mana yang tayangkan sinetron Turki setelah agak lama hilang dari garis edar. Lagipula tren perhatian publik pemirsa berbalik 180 derajat. Jika dahulu era sinetron jual mimpi pupus diganti tren sinetron cinta-cintaan remaja dan dikikis pula oleh sinetron membumi ala kehidupan kampung dan pinggiran kota. Kini, film-film barat yang dahulu jadi pemimpin tren malah berbalik jadi makmum yang mengikuti jam tayang sinetron India dan Turki. Dimana ada India-Turki disana ada barat.Cerminan  pergeseran pusat dunia budaya, ekonomi dan politik juga hiburan di level gobal.

Pertanyaannya adalah apa yang menjadi sebab sinetron dari 2 negara itu begitu disukai? Agaknya fenomena sinetron India tak perlu dijelaskan lagi. Sebagaimana sejak lama film-film Bollywood menyaingi film Hollywood. Isi cerita dan karakter yang bermain di dalamnya mempunyai banyak kemiripan dengan cerita dan watak Indonesia.Entah karena kita dahulu masih mempunyai bawah sadar agama, adat dan tradisi Hindu-Buddha di dalam lapisan Islam dan Barat yang belakangan melapisi kesadaran nasional. Bisa juga secara mitologis, kita masih mempunyai kenangan primordial lama yang muncul sesekali dengan mitos negeri Kumari Kundam atau Atlantis yang menghubungkan daratan India dan Indonesia menjadi satu kesatuan di 10.000 SM.

Barangkali kalau mau disebut satu adalah ramuan yang apik antara cerita, watak, dan dialog. Kendati tema-tema yang diunjukkan tidaklah jauh-jauh dari soal keluarga, cinta, persaingan profesi dan kehidupan secara umum. Namun Alur yang dimainkan untuk menggerakkan cerita terasa alamiah dan masuk akal. Mengalir seperti sungai dan penuh naluri kehidupan yang lumrah. Cara membangun alur dari perkenalan, konflik, klimaks, sampai penutupnya lancar jaya. Meskipun ada, misalnya rencana mencelakakan orang untuk memperebutkan cinta atau warisan, namun membawakan karakter dan kelokannya terbuat bagus dan terjaga kejutannya.

Tidak ada eksploitasi marah-marahan berlebihan, atau penyiksaan keterlaluan, dengan ekspresi mata melotot mau keluar, hanya untuk menggantikan seretnya suspensi naik turun dramatika yang kurang. Juga tak ada bagian tubrukan romantik yang membuat 2 pasangan akan saling menaruh hati satu sama lain secara absurd. Bahkan kalaupun ada itu rasanya masuk akal saja karena begitu banyaknya variasi dan warna kreativitas mengapa hal itu bisa terjadi.
Begitu India pun juga dengan Turki. Hanya bedanya, India sangat bangga menunjukkan sikap nasionalisnya dengan memakai pakaian tradisonalnya di berbagai kesempatan. Kendati variasi coraknya ada campuran stilistika modern dan bagian perut dan punggung yang terbuka lebih banyak yang barangkali menyesuaikan dengan semangat modern. Selebihnya adalah pertunjukan tarian yang masih menawan dengan iringan musik India yang khas riang, bergoyang  dan suka bermain-main sebagai bagian besar kehidupan dan daya cipta. Ada resonansi tarian Syiwa dalam semua tariannya.

Banyak permainan puisi dalam nada-nada musiknya dan keindahan sastrawi yang dalam. Tak lupa adalah dialog-dialog cerdasnya yang senantiasa mengingatkan kita akan dialog Khrisna dan Arjuna dalam Bhagavad Ghita soal kebenaran dan kebijaksanaan. Dialog-dialog ringan juga tidak jauh dari kesan cerdas dalam Ramayana jika berbicara soal cinta atau Bharatayudha jika berbicara soal kehormatan,  kesetiaan dan harga diri. Taburan selipan puisi-puisi sufi yang telah merakyat dalam darah kesadaran hindu-islam pada puja-pujian cinta juga tidak kalah banyaknya.

Sinetron Turki lain lagi. Disebabkan kehangatan dramatika pada sejarah dan darah ras bangsanya, barangkali itulah yang membuat sinetron Turki penuh lika-liku yang cepat bergerak. Mereka, penulis skenarionya, mudah sekali mempertemukan satu karakter dengan karakter lain, membenturkannya, lalu menyelesaikannya. Lalu dalam tempo tidak terlalu lama, karakter itu sudah kenal dan berbenturan dengan karakter lainnya. Kemudian setelah semuanya pernah berbenturan secara tak terduga, kita akan merasakan kerumitan dramatika yang seolah selalu baru dan tak pernah lelah. Seperti politik dalam negeri dan imperialnya barangkali.

Kebanggaan nasionalnya ada pada kebaruan dan kemodernannya yang percaya diri. Sinetron Turki sering memperlihatkan gaya busananya yang modern, terbaru dan modis. Baik bentuk, gaya maupun corak dan variasinya. Begitupun dengan tata kota, rumah, taman, perabot dan asesorinya. Semuanya sepeti beraroma barat eropa dan sekuler.

Isi ceritanya juga tak jauh dari tema-tema sinetron India dan Indonesia. Namun dalam konflik terbuka maupun terselubungnya, banyak ditemui insiden perselingkuhan, tidur bersama, ciuman dan cara pergaulan yang barangkali akan mengganggu bagi penonton dengan ciri islam taat. Karena nuraninya akan tergelisahkan dan bertanya “katanya Turki tapi dimana wajah islamnya?”. Pakaian terbuka, minum miras, klub malam dimana pasangan laki-perempuan bercampur juga akan menyempitkan dada mereka.

Lucunya ,sebagaimana gambaran Orhan Pamuk dalam novel-novelnya, islam tampil pada mereka yang hidup di pinggiran kota atau pedesaan. Biasanya mereka digambarkan kolot, berbusana islami, taat ibadah dan tidak menyukai kebebasan pribadi ala kota modern. Mungkin benar sampai sekarang Turki masih menampakkan ketegangan abadi antara islam dan sekulerisme yang telah bertahta disana hampir 100 tahun dan disaingi oleh islamisasi kurang dari 15 tahun terakhir ini. Sehingga keterbelahan kota-desa, pemuda-orang tua, sekuler-islami begitu nyata ada dan tak tersangkalkan.

Tambahan lainnya adalah tentu saja pemain-pemainnya yang rata-rata cantik untuk perempuannya dan ganteng untuk laiki-lakinya tak bisa disembunyikan begitu saja. Musik-musik populernya yang rata-rata murung karena pengaruh dominan puisi Mawlawi Jalaluddin Rumi tentang keterpisahan cinta antara pecinta dan tercintanya adalah ciri lainnya. Puisi patah hati namun juga lirih puitis dengan diiirngi alunan musik gambus ala arab masih melekat kuat di alam modern Turki.

Kendati persambungan islamnya dengan Indonesia nampak kuat, namun kesan kultural, emosional dan tradisionalnya yang agak beda itulah yang membuat sinetron India lebih diakrabi disini. Sinetron Turki lebih disukai di tempat yang dekat dengan watak, budaya dan emosi mereka, Yakni Timur tengah, Eropa Timur dan Amerika tengah juga selatan. Timur Tengah dekat dengan Islamnya, Eropa Timur dekat pengaruh koloninya, dan Amerika Latin dekat karena kesamaan watak hangat dan dramatik Mongol (Rusia,Mongolia, Asia tengah, dan Dinarik) dan Iberian (Spanyol dan Portugal).

Tedi Auriq, penggemar film

(ilustrasi:merdeka.com)

Sekdes Media
Media Berita dan Opini | Media Informasi dan Berita | Mendekatkan pembaca dengan kabar aktual seputar seni, olah raga, kuliner, sospol.
Top
%d blogger menyukai ini: