sekdes.com
Home > Nasional > Letak Agama Dan Politik Dalam Pandangan Founding Fathers

Letak Agama Dan Politik Dalam Pandangan Founding Fathers

Gambar:puskomdasumut.wordpress.com.

Saiful Islam

Untuk yang kesekian kalinya perdebatan masa lalu mencuat kembali. Silang pendapat mengenai hal-hal dasar berdirinya negara. Unsur-unsur fundamental disatukannya bangsa. Dahulu. Di masa silam yang belum terlalu jauh. Tentang dimanakah letak agama dan politik.

Mengapakah kita memperdebatkan soal-soal besar klasik yang telah selesai dirumuskan itu? Barangkali karena noktah-noktah konsensusnya belum lagi penuh. Hingga diperlukan kembali debat publik untuk mengisi lowong-lowong yang masih kosong. Barangkali pula kita sudah melupakan itu semuanya yang membawa pada kealpaan besar menempatkan kebijakan. Mungkin juga pasalnya ada kepentingan raksasa yang hendak menerjang seluruh tatanan dan kaitan jaring kenegaran yang sudah mapan nan rapi.

Entahlah apapun itu perlu dijernihkan soal pangkal sumbernya. Adalah Soekarno presiden pertama dan penggali Pancasila yang telah memberikan gambara dan garisnya demarkasinya. Ia berujar bahwa Indonesia didirikan sebagai negara “semua untuk semua”, bukan “satu untuk semua”, bukan pula “semua untuk satu”. Artinya negara ini didirikan oleh semua golongan untuk semua golongan jua.Bukan satu golongan mengatasi semua, juga bukan semua golongan mengatasi satu golongan.

Merujuk pada Pancasilasebagai ideologi negara yang merangkum semua gagasan,ideologi dan agama. Alhasil semua golongan, pandangan dunia, dan keyakinan boleh ada dan diakui. Sebagai hasil lanjutannya, berarti semua golongan, ideologi dan agama boleh dan punya hak yang sama untuk mempengaruhi kebijakan dan aturan demi kebajikan bersama. Apakah itu Ketuhanan, kemanusiaan, Nasionalisme, Demokrasi maupun Sosialisme.

Kalaupun ada yang protes hendak memisahkan agama dari politik berarti itu sama halnya dengan memisahkan satu golongan dari golongan lainya sebagai bangsa. Karena itu adalah pandangan dunia yang menjadi bagian bangsa, bukan menjadi konsensus sebagai keseluruhannya. Mereka merujuk pada pandangan tokoh komunis D.N Aidit yang berkata ihwal urusan agama harus dipisahkan dari politik agar tidak memerosotkan agama menjadi sekedar candu yang meninabobokkan.

Jangan pula menjadikan agama sebagai dasar bagi satu-satunya ideologi negara. Sebab indonesia bukanlah negara agama. Hendak menjadikan islam sebagai dasar negara kurang lebih serupa hendak mengangkatnya sebagai bagian tujuan negara islam. Islam sebagaimana agama lainnya berhak sama dan berkembang dengan agama lainnya. Pandangan Muhammad Natsir bahwa “kalau islam beribadah dibiarkan, kalau berekonomi diawasi, kalau berpolitik akan dicabur sampai ke akar-akarnya” menjadi bagian masa lalu bangsa. Tidak berlaku lagi saat ini dan tidak boleh lagi seperti itu.

Telah terbuka pintu parlemen “bagi umat islam untuk menjadikan ayat-ayat al qur an menjadi aturan, dan bagi umat kristen untuk mengangkat surat-surat injil mempengaruhi parlemen”. Yang terpenting kini adalah bukan lagi soal hubungan dasariah tentang dimana agama dan dimana politik. Namun adalah tentang bagaimana menjaga, seperti kata Cokroaminoto guru para pendiri bangsa, akan “semurni-murninya tauhid, setingi-tingginya ilmu dan sepandai-pandainya siasat”. Untuk apakah? Untuk menuju kemandirian ekonomi, kedaulatan politik dan budaya berkepribadian.

Tentang bentuk dan cara perjuangan, Muhammad Hatta telah memberikan 2 pilihan. Pertama memperjuangkan agama dan ideologi dengan cara “bendera yang berkibar-kibar”. Caranya menunjukkan slogan, simbol dan bendera masing-masing golongan. Akibatnya adalah akan muncul pergolakan dan kegaduhan. Kedua, dengan memperjuangkan keduanya melalui bentuk “garam yang memberi rasa asin bagi semuanya”. Cara berikut ini lebih kalem, langsung pada isi dan memberikan manfaat bagi semua golongan.

Masing-masing boleh memilih dan mengambil bentuk dan cara perjuangan yang disukai. Disesuaikan seja dengan kemampuan, keahlian dan kekuatannya. Hukumnya mubah dan keduanya saling melengkapi. Asalkan pada pelaksanaannya harus saling mengerti dan memahami batasan masing-masing pilihan. Sebab agama dan ideologi tanpa simbol tidak bisa menggerakkan jiwa. Namun menyederhanakan keduanya hanya sebatas gambar dan warna, alangkah dangkal dan tidak bergunanya itu semua.

Agama selain memberi keyakinan harus pula memberi makan penganutnya. Ideologipun tidak boleh hanya sebatas mengisi arah dan arti hidup, akan tetapi harus pula memberikan pakaian pengikutnya agar tidak telanjang dan punya harga diri.

Sekdes Media
Media Berita dan Opini | Media Informasi dan Berita | Mendekatkan pembaca dengan kabar aktual seputar seni, olah raga, kuliner, sospol.
Top
%d blogger menyukai ini: