sekdes.com
Home > Opini > Apa Yang Tuhan Lakukan Sebelum Mencipta? Tanya Fisikawan Stephen Hawking

Apa Yang Tuhan Lakukan Sebelum Mencipta? Tanya Fisikawan Stephen Hawking

Itulah perkembangan permenungan terakhir fisikawan besar dunia itu. Seorang fisikawan yang bobotnya banyak disetarakan dengan Isaac Newton dan pernah menduduki jabatan yang sama. Perenungan tersebut mencuat kala ia mencapai tapal batas ilmu fisika dan astronomi. Mencoba bertanya apa yang tidak bisa dijawab oleh rumus dan persamaan.

Pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan sebelumnya beberapa waktu lalu agak lama. Ia bingung mengapa Tuhan membiarkan jagad beserta isinya kok ada. Mengapa tidak ia biarkan saja tiada. Bukannya lebih bagus alam ini tiada, hingga tidak menimbulkan sengketa, tanya dan keraguan. Lalu apakah tujuannya jagad ada, dan mengapakah demikian. Sedang bagaimana telah dijawab astrofisika dengan meyakinkan. Begitulah kira-kira penulis mencoba menggambarkan batin seorang saintis. Mencari jawaban segala teka teki di atas segala teka teki. Melampaui Theory of Everything.

Pertanyaan seperti ini sesungguhnya tidaklah mengherankan. Meskipun akan banyak mengejutkan kita. Mengapa? Sebab Stephen Hawking tergolong saintis yang tak puas begitu saja akan jawaban sains dan temuannya. Dengan melampui dinding fakta, kenyataan dan bukti empiris, diunjukkanlah pertanyaan filosofis dan metafisika. Ia mencoba menjadi filsuf dan sesekali terdengar teolog. Kendati akan masih jauh mendekati Einstein yang arif dan terkadang mistik itu. Menerima begitu saja ada kecerdasan adi alami yang kebijaksanaannya dan keindahannya berpendar pada susunan alam raya.

Beberapa saintis dan fisikawan memang di akhir penemuan dan pembuktian teorinya biasanya terbawa pada pembawaan filosofis macam itu. Taruhlah Werner Heisenberg yang heran justru tidak menemukan posisi dan kecepatan atom terpasti kala pengamat ikut mencampuri dalam penelitian yang terlibat. Lalu mengusulkan asas ketidakpastian alam pada level sub atomik atau yang lebih kecil dari itu.Dan segera pernyataan itu dibantah oleh Einstein bahwa “Tuhan tidak bermain dadu”. Untuk menegaskan bahwa memang ada kenisbian hukum  fisika di tingkat renik, namun bukan berarti menolak adanya kepastian dan ukuran.

Mungkin mereka tidak tahu ada batas antara ilmu-ilmu rasional, non rasional dan non empiris. Ada tembok batas sains. filsafat dan teologi. Bahwa mengapa dan apa, selalu menjadi medan ilmu filsafat, teologi dan mungkin mistisisme. Sedang bagaimana, adalah lapangan dan hakim bagi ilmu-ilmu alam.

Bagi kita orang awam, kita dilarang untuk bertanya hal-hal abstrak sedemikian. Sebab terkadang pertanyaan membinasakan. Seperti pesan rasul bahwa “janganlah kau banyak bertanya. Sebab kaum-kaum terdahulu binasa karena banyak bertanya”.Sehingga kita cukup menerima dan mempercayai saja soal hal-hal adikodrati. Meski tak memadai penjelasan dan biasanya hanya dijawab secara kiasan saja menurut akal orang awam.

Karena itu, “bertanyalah soal ciptaanKu, dan janganlah kau bertanya soal AKU”. Pesan nabi dalam hadis qudsinya. Maksudnya agar kita membatasi diri untuk bertanya dan jawabannya. Namun demikian untuk konsumsi para cendekia dan filsuf serta teolog tentu saja ada jawaban yang telah dikemukakan. Tentu saja jawaban itu dari sudut pandang tradisonal, atau dari sudut pandang agama, teologi. filsafat dan mistik. Dimana pembuktiannya bukan dari pembuktian fisik dan observasi, namun dari pembuktian tradisi, intelektual, rasional dan mistik penyingkapan.

Tentang tanya apa yang Tuhan lakukan sebelum mencipta, al Qur an dan Hadis telah menjawabnya. Al Qur an bersaksi bahwa “Allah, rasul dan orang-orang yang berimanlah saksi keesaan”.Artinya yang menyaksikan ketunggalan Tuhan adalah pertama-tama Allah itu sendiri, lalu para rasul dan nabi lalu ketiga adalah orang-orang yang beriman. Allahlah saksi pertama diriNya sendiri sebelum mencipta. Allah sendiri sebelum ada apapun di jagad raya. Hal ini dikuatkan oleh hadis bahwa “Sebelum menciptakan sesuatu. pertama-tama hanya ada Allah”.

Secara rasional argumen itu benar adanya. Seperti argumentasi Imam Hanafi adanya Allah sebagai awal bagi segala adalah mirip angka 1 terhadap angka-angka lainnya dalam bilangan asli. Tentu saja bilangan asli waktu itu belum adanya nol yang ditemukan oleh Chandragupta dan disempurnakan oleh Khawarism. Bilangan nol nantinya malah menegaskan bahwa ketiadaan awal segala yang ada. Dimana Tuhanlah Sang Pengada semua dan segalanya.

Mengenai apa yang Tuhan lakukan pra mencipta, kalangan filsuf dan teolog berbeda pendapat dan pandangnya. Filsuf beraliran peripatetik dimana mereka percaya bahwa segalanya ada karena wujud dan esensi menjawab menurut argumentasi khasnya. Al Farabi, Miskawaih, Omar Khayyam dan Ibn sina berpendapat karena alam ini adalah pancaran wujud yang mengalir dari Sang Wujud Pertama, maka Dialah Sang Pengada. Ia mengadakan segalanya dengan berpikir dan merenungi diriNya sendiri.

Dari renungan inilah keluar secara berurutan akal pertama, akal kedua hingga akal kesepuluh. Bersamaan dengan akal kedua lahirlah roh pertama dan badan pertama sebagai cikal bakal segala yang ada dibawahnya. Pancaran ilahiah yang mengeluarkan daripadanya akal, roh, dan wujud itulah yang disebut emanasi. Cara berpikir khas  Yunani Arya yang suka spekulasi filosofis dan berurutan dari yang sederhana menuju yang kompleks. Al Haq wa al Khalq. Tentu saja dengan variasi pengaruh islamnya yang sangat banyak seperti wujud al wajibnya Allah, keabadian Tuhan secara wujud dari alam, dan rasul sebagai peletak dasar syariah sebagai hukum dan moral semua kalangan.

Sementara filsuf lainnya mengikuti jalan lain. Al Kindi dan teolog Asy ari, Juwaini, al Ghazali beserta pengikutnya seperti Fakhruddin al Razi menjelaskan dengan cara lain. Bagi mereka tindak penciptaan sepenuhnya adalah kehendak dan wewenang Allah. Ia mencipta, alam ada. Ia tak mencipta, alam pun tiada. Itulah sebabnya kondisi jagad sebelum ada penciptaan adalah sepenuhnya kuasa Allah, tiada yang tahu. Kala Ia mencipta, pastilah waktu yang dipilihNya adalah yang terbaik bagi ilmuNya. Tanpa harus ditanya kok tidak kemarin, mengapa baru besok. Demikian hasilnya adalah “yang ada adalah yang terbaik dari yang mungkin ada”,kata al Ghazali. Ini adalah jawaban khas cara berpikir semitik yang terputus namun bebas dan merdeka. Tanpa harus berurutan.

Jawaban lain juga dikemukakan oleh Ibn Arabi. Baginya Allah senantiasa mencipta. Karena “Ia senantiasa sibuk dan tidak pernah lelah aplagi beristirahat”. Ia senantiasa memperbarui ciptaanNya. Seperti pada wahyu dan ilham yang selalu ada yang “diganti dengan yang setara ataupun yang lebih baik lagi”. Nasakh al mansuh. Namun karena Allah adalah “Yang Gaib dan Yang Lahir” maka tiada yang tahu. Penciptaan memang adalah mengadakan sesuatu dari nol atau ketiadaan dari pandang mata dan ukuran materi. Tetapi sesungguhnya pada esensinya, ciptaan adalah tak lain manifestasi Allah di alam lahiriah setelah sebelumnya gaib karena terhijab dari materi. Segala hal dahulunya ada dalam pikiran Allah sebagai a’yan al tsabitah. Esensi-esensi yang permanen adanya.

Jadi penjelasan itu sekaligus menjawab dua pertanyaan. Bahwa sebelum penciptaan Allah senantiasa mencipta karena ciptaan adalah manifestasi diriNya yang terpantul ke luar. Dan mengapa alam ini ada tak lain hanyalah bagian dari drama dan skenario perwujudan ilahi dalam panggung dunia. Dialah sang Maha Pencipta. Maha Kreatif.

Disebabkan bahwa alam ini tak lain manifestasi dari nama-nama Tuhan yang 99 itu dan pantulan dari Sifat-sifatNya,  artinya dunia ini tak lain adalah persaksian dan pengembalian. Persaksian di awal waktu bahwa “Tiada Tuhan melainkan Allah” dan tergelarlah penciptaan. Nantinya di akhir waktu, kala segalanya telah lengkap dan sempurna, maka datanglah kiamat sebagai pengembalian kepada Allah. Innalillahi wa innalilahi raaji uun.

Saiful Islam, penulis biasa    

Gambar:twitter.com

Sekdes Media
Media Berita dan Opini | Media Informasi dan Berita | Mendekatkan pembaca dengan kabar aktual seputar seni, olah raga, kuliner, sospol.
Top
%d blogger menyukai ini: