sekdes.com
Home > Opini > Ahli-Ahli Jiwa Bicara Puasa Meraih Taqwa

Ahli-Ahli Jiwa Bicara Puasa Meraih Taqwa

Puasa ramadhan telah memasuki lebih setengah bulan. Selama setengah perjalanan pula kita haus. Setengah bulatan purnama jua kitapun lapar. Sepanjang separuh bulan kita sudah banyak menahan diri. Biasanya bagi mereka yang bersungguh-sungguh, separuh jalan ke depan adalah gas naik. Tancap gas makin khusuk shalatnya, teguh rakaat tarawehnya, lancar sedekahnya, dan rutin tadarusnya. Kendati tentu saja lebih banyak yang tancap gas belanjanya, cari menu bukanya, rencana mudiknya dan lain sebagainya.

Lalu kita barangkali melupakan apakah artinya taqwa pada perintah puasa “kami wajibkan puasa bagi orang-orang beriman sebelum kamu agar kamu bertaqwa”? Umar pernah ditanya soa apakah artinya taqwa. Lalu beliau menjawab “apakah yang kamu lakukakan apabila kau berjalan di malam hari dimana tak ada cahaya”? Jawabnya pasti berhati-hati. Ya berhati-hati menjaga lurusnya jalan sepanjang perjalanan hidup.

Sementara Rasulullah memberikan makna yang lain. Dikatakan beliau bahwa taqwa adalah pengamalan dari iman itu sendiri. “Iman itu telanjang sedang taqwa adalah pakaiannya”.Demikian bunyi hadistnya. Jadi iman adalah melaksanakan apa yang menjadi perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya.

Jika dihubungkan dengan makna pertama di atas, jadi bekal puasa nantinya menjadi modal dasar kekuatan jiwa kita untuk tetap berjalan berhati-hati dalam menjalankan amalan agama. Mengapa berhati-hati? Apa yang harus dihati-hatikan? Apa rupa rambu dan markanya berhati-hati itu? Tentu saja berhati-hati tetap berjalan di jalan yang lurus. Itulah mengapa al Fatihah menyuruh kita guna berdoa meminta ditunjukkan jalan yang lurus.

Banyak ulama sepakat bahwa makna berhati-hati dalam pengamalan agama terkait dengan pengalaman umat terdahulu. Yaitu dua umat yang telah diberi hukum dan ilmu namun dilampaui batasannya. Dan umat lain yang telah ditunjukan moral dan hakikat namun berlebihan karena tak tahu garisnya.

Dalam konteks berpuasa, barangkali makna berhati-hati itu adalah menjaga stamina jalan tengah di antara 2 tarikan besar kejiwaan dalam diri manusia. Tarikan jiwa malakut atau malaikat. Dan tarikan jiwa hayawaniyah atau kebinatangan yang dikandung jiwa. Yang pertama mengajak pada cahaya, ilmu, kebijaksanaan dan cinta kasih. Sedang yang kedua senantiasa mengajak pada gelap, kebodohan, kebebalan dan amarah. Sedang nafs atau diri manusia ada ditengah-tengah keduanya, ruh dan badan.

Maka mencapai kedamaian antara bisikan ruh dan ajakan binatanglah yang menjadi tugas manusia sebagai nafs yang persis ada diantara kedua kekuatan jiwa. Saat interaksi kedua jiwa itu lebih dominan suara amarahnya, jadilah ia jiwa amarah. Penuh nafsu dan angkara. Kala jiwa malakut dan binatang sama kuat, jadilah lawammah. Kadang malakut menang, kadang malakut kalah. Namun saat jiwa malakut memenangkan laga, jadilah manusia tenang dan damai. Jiwa muthmainnah. Penuh perserahan diri, pertobatan dan kenali pada Tuhan.Demikian penjelasan al Ghazali.

Barangkali dalam ilmu kejiwaan modern, perselsihan abadi 2 jiwa, antara malakut dan kebinatangan yang berada pada diri nafs/diri kita dapatkan pada penjelasan Sigmund Freud. Ia membabarkan adanya 3 stasiun jiwa, yakni Id, Ego dan Superego. Serupa dengan jiwa binatang, Id mewakili sumber kejiwaan manusia yang paling purba dan azali. Karena di dalam mengandung dorongan hidup, berahi, syahwat dan gelora kehidupan. Id mempunyai asas kesenangan dan pemenuhan dengan mendorong dan memaksa.

Sebaliknya Super Ego berisikan hal-hal yang baik dan seharusnya. Segala norma dan nilai ada disini. Baik melalui didikan, nurani maupun bentukan lainnya. Berlaku sopan, adil, benar dan baik adalah tuntutan Super Ego. Mengabaikannya sama menggelisahkannya dengan mengabaikan kewajiban dan aturan. Maka menjadi tugas ego untuk menyeimbangkan dorongan

Tentang apa dan bagaimana sang Ego memainkan peran di dunia dalam permainan keseimbangan abadi Id dan Super Ego, Jiwa Malakut dan Jiwa Binatang, al Ghazali dan Freud tidaklah menjelaskan. Disinilah kita bisa mencari bantuan penjelasan dari Carl Jung. Menurutnya setiap jiwa telah terkandung arketip atau desain abadi yang terkespresikan dalam macam ragam mitologi, agama dan budaya. Jiwa telah mengenal Tuhan, baik-buruk, pria-wanita ideal, citra alam, binatang dll.

Selain itu dikenal pula dalam jiwa manusia beragam pilihan peran dan profesi sejak azali di alam roh dan kandungan. Jiwa-jiwa telah dipilih dalam berwarna peran. Seperti penyembuh, penghibur, pemimpin, penemu, petualang, pekerja dll. Semua telah dibentuk bakat dan keahliannya disana sebelum hadir di dunia. Untuk pilihan itu, hendaknya ego tidak merasa satu peran lebih tinggi dari peran lainnya. sebab tidak ada tinggi dan rendah. semua bekerja sama dalam pembagian peran kosmik yang semuanya saling melengkapi dan mendamaikan.

Dan itu hanya bisa terjadi manakala ego telah berdamai dengan semua jiwa yang ada pada dirinya sehingga ia tidak merasa perlu merasa lebih atau paling atas yang lain. Apabila keseimbangan ego telah terjalin baik dan seimbang tanpa menafikan dan melenyapkan satu sama lain. Dengan menerima peran yang lain sama baiknya dengan perannya, maka terjadilah keseimbangan sosial di antara beragamnya individu dan warna tugas dan perannya.

Saiful Islam, penulis biasa

ilustrasi: sumbarprov.go.id

Sekdes Media
Media Berita dan Opini | Media Informasi dan Berita | Mendekatkan pembaca dengan kabar aktual seputar seni, olah raga, kuliner, sospol.
Top
%d blogger menyukai ini: